Perusak Islam oleh orang Islam sendiri
Perusak Agama Islam oleh Orang Islam Sendiri
Pendahuluan
Islam adalah agama yang sempurna, namun kerusakan sering kali datang bukan dari musuh di luar Islam, melainkan dari sebagian kaum Muslimin sendiri yang lalai terhadap ajaran agama. Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahwa kebodohan, hawa nafsu, riya’, bid’ah, serta meninggalkan ilmu dan adab merupakan sebab utama rusaknya umat.
Allah ﷻ berfirman:
> “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan banyak bersumber dari ulah manusia sendiri, termasuk kerusakan agama dan akhlak umat Islam.
1. Kebodohan terhadap Agama
Salah satu perusak terbesar agama adalah kebodohan. Orang yang berbicara tentang agama tanpa ilmu dapat menyesatkan dirinya dan orang lain.
Allah ﷻ berfirman:
> “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.”
(QS. Al-Isra’: 36)
Imam Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Majmu’:
> “Berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu termasuk dosa besar.”
Begitu pula Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa rusaknya umat sering bermula dari orang yang mencari kedudukan melalui agama tanpa memahami hakikat ilmu
2. Mengikuti Hawa Nafsu
Hawa nafsu menyebabkan seseorang menolak kebenaran walaupun telah jelas dalilnya.
Allah ﷻ berfirman:
> “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Imam Asy-Syafi'i berkata:
> “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang melainkan aku berharap kebenaran tampak melalui lisannya.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa ulama salaf mendahulukan kebenaran daripada ego dan hawa nafsu. Sebaliknya, ketika hawa nafsu diutamakan, agama menjadi alat kepentingan pribadi.
3. Riya’ dan Cinta Dunia
Banyak amal rusak karena riya’ dan ambisi duniawi. Orang memakai agama untuk popularitas, harta, atau pujian manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil?”
Beliau menjawab: “Riya’.”
(HR. Ahmad)
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa riya’ adalah penyakit hati yang sangat halus dan dapat menghancurkan pahala amal.
Dalam Ihya Ulumuddin beliau menerangkan bahwa orang alim yang mencari dunia dengan ilmunya termasuk golongan yang paling berat hisabnya di akhirat.
4. Bid’ah dan Penyimpangan
Para ulama Syafi’iyah sangat tegas dalam menjaga kemurnian syariat. Bid’ah yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah dapat merusak agama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka itu tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa setiap perkara baru yang menyelisihi syariat adalah tercela.
Namun para ulama juga menerangkan bahwa tidak semua perkara baru otomatis sesat; yang tercela adalah yang bertentangan dengan dasar agama.
5. Meninggalkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Ketika umat diam terhadap kemungkaran, kerusakan akan menyebar.
Allah ﷻ berfirman:
> “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
(QS. Ali Imran: 110)
Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah menerangkan pentingnya menjaga moral masyarakat melalui nasihat dan pengawasan terhadap kemungkaran.
6. Perpecahan dan Fanatisme
Fanatik kelompok, mudah mengkafirkan, dan gemar memecah belah umat termasuk sebab rusaknya agama di tengah kaum Muslimin.
Allah ﷻ berfirman:
> “Dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi lemah.”
(QS. Al-Anfal: 46)
Imam Asy-Syafi'i berkata:
> “Pendapatku benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar.”
Ini menunjukkan adab para ulama dalam menyikapi perbedaan ijtihad.
Penutup
Semoga Allah ﷻ menjaga kita dari menjadi penyebab rusaknya agama, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperbaiki umat dengan ilmu dan amal saleh. Aamiin.

Komentar
Posting Komentar